SELAMAT DATANG TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA
kasih koment nya ya agar blog ini semakin baik

Sabtu, 09 April 2011

FITOKIMIA


FITOKIMIA MENCEGAH PENYAKIT DEGENERATIF

Fitokimia berasal dari kata phytochemical . Phyto berarti tumbuhan atau  tanaman dan chemical sama dengan  zat kimia berarti zat kimia yang terdapat pada tanaman.  Senyawa fitokimia tidak termasuk kedalam zat gizi karena bukan berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral maupun air. Jadi apakah fitokimia itu? Setiap tumbuhan atau tanaman mengandung sejenis zat yang disebut fito kimia, merupakan zat kimia alami yang terdapat di dalam tumbuhan dan dapat memberikan rasa, aroma atau warna pada tumbuhan itu. Sampai saat ini sudah sekitar 30.000 jenis fitokimia yang ditemukan dan sekitar 10.000 terkandung dalam makanan.
Beberapa studi pada manusia dan hewan membuktikan zat-zat kombinasi fitokimia ini di dalam tubuh manusia memiliki fungsi tertentu  yang berguna bagi kesehatan. Kombinasi itu antara lain menghasilkan enzim-enzim sebagai penangkal racun (detoksifikasi), merangsang sistem pertahanan tubuh (imunitas), mencegah penggumpalan keping-keping darah (trombosit), menghambat sintesa kolesterol di hati , meningkatkan metabolisme hormon, meningkatkan pengenceran dan pengikatan zat karsinogen dalam liang usus, menimbulkan efek anti bakteri , anti virus dan  anti oksidan, mengatur gula darah serta dapat  menimbulkan efek anti kanker.

Secara garis besar fitokimia diklasifikasikan menurut struktur kimianya sebagai berikut :
  1. Fitokimia karotenoid
  2. Fitokimia fitosterol
  3. Fitokimia saponin
  4. Fitokimia glukosinolat
  5. Fitokimia polifenol
  6. Fitokimia inhibitor protease
  7. Fitokimia monoterpen
  8. Fitokimia fitoestrogen
  9. Fitokimia sulfida
  10. Fitokimia asam fitat
  11. Masih banyak sekali jenis fitokimia lain
Fitokimia karotenoid banyak terdapat pada sayur-sayuran berwarna kuning-jingga seperti wortel, labu kuning, sayuran berwarna hijau  seperti brokoli dan buah-buahan berwarna merah dan kuning jingga seperti pepaya, mangga, tomat, nenas semangka arbei dll. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa zat karotenoid dapat mencegah kanker, sebagai anti oksidan dan dapat meningkatkan system imun tubuh.

Fitokimia fitosterol banyak ditemukan pada biji-bijian dan hanya sekitar 5% dari fitosterol yang dapat diserap oleh usus dari makanan kiat. Penelitian mengungkapkan fitosterol dapat menurunkan kolesterol dan anti kanker.

Fitokimia saponin banyak terdapat pada kacang-kacangan dan daun-daunan. Penelitian mengungkapkan bahwa saponin dapat sebagai anti kanker, anti mikroba, meningkatkan system imunitas, dan dapat menurunkan kolesterol.

Fitokimia glukosinolat banyak terdapat pada sayur-sayuran seperti kol dan brokoli. Jika sayuran dimasak dapat menurunkan kadar glukosinolat sebesar 30-60%. Termasuk dalam

glukosinolat ini meliputi fitokimia lain seperti isothiosianat,thiosianat dan indol. Peneliti- an menunjukkan bahwa glukosinolat dapat bersifat anti mikroba, anti kanker dan menurunkan kolesterol.

Fitokimia polifenol banyak terdapat pada buah-buahan sayur-sayuran hijau seperti salada dan pada gandum dll. Penelitian pada hewan dan manusia menunjukkan polifenol dapat mengatur kadar gula darah, sebagai anti kanker, antioksidan, anti mikroba, anti inflamasi.

Termasuk polifenol adalah asam fenol dan flavonoid

Fitokimia inhibitor protease merupakan fitokimia yang banyak terdapat pada biji-bijian dan sereal seperti padi-padian, gandum dsb, yang dapat membantu kerja enzim dalam system pencernaan manusia. Dapat sebagai anti oksidan , mencegah kanker dan mengatur kadar gula darah.

Fitokimia monoterpen banyak terdapat pada pada tanaman beraroma seperti mentol  (peppermint), biji jintan, seledri, peterseli, rempah-rempah dan sari jeruk. Berkhasiat mencegah kanker dan anti oksidan.

Fitokimia fitoestrogen banyak terdapat pada kedelai dan produk kedelei seperti tempe, tahu dan susu kedelei. Memiliki aktifitas seperti hormon estrogen. Senyawa aktif fitoestrogen terdiri dari isoflavonoid dan lignan. Menurut para ahli isoflavonoid akan menempel pada sel tumor sehingga sel kanker tidak mendapatkan zat gizi yang diperlukan. Bersifat sebagai anti kanker, dan menurut penelitian, orang yang banyak mengkonsumsi tempe/kedelei lebih rendah menderita kanker payudara dari pada orang yang mengkonsumsi daging. Tempe banyak mengandung isoflavonoid,, genestein, fitosterol, isoflvonoid, saponin, asam fitat dan inhibitotr protease. Khasiat lain dari isoflavonoid yang menyerupai estrogen ini memperlambat berkurangnya massa tulang yang berakibat terjadinya keropos tulang (osteoporosis) sehingga makanan tempe sangat cocok untuk wanita menopause dan laki-laki berumur karena dapat menurunkan kadar kolesterol total, dan meningkatkan kadar HDL kolesterol (kolesterol baik).

Fitokimia sulfida banyak terdapat pada bawang putih, bawang bombai, bawang merah dan bawang daun. Senyawa fitokimia aktif pada bawang putih adalah dialil sulfida (allicin). Menurut peneliti sulfida bekerja sebagai anti kanker, anti oksidan, anti mikroba, meningkatkan daya tahan, anti radang, mengatur tekanan darah dan menurunkan kolesterol.

Fitokimia asam fitat terdapat pada kacang polong, gandum. Berfungsi sebagai anti oksidan yang dapat mengikat zat karsinogen dan mengatur kadar gula darah.

Warna yang menyehatkan

Pigmen yang memberi warna pada buah-buahan dan sayuran , selain membangkitkan selera makan, adalah juga fitokimia tertentu yang efeknya bervariasi. Ada sekitar 2000 macam pigmen pada tumbuhan yang sudah dikenal dan terdapat pada makanan kita, termasuk diantaranya 450 jenis karotenoid, 150 jenis anthosian dan 800 jenis flavonoid.

Anthosian merupakan fitokimia yang berwarna merah , banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran seperti arbei, cerry, anggur, rasberri dan semangka, bayam merah dll Menurut penelitian anthosian dapat menghambat pembentukan enzim HMG-Co A reduktase yang berhubungan dengan pembentukan kolesterol, sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol.

Flavonoid banyak terdapat pada kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran seperti seledri, buncis, brokoli, buahan seperti anggur merah, apel dan jeruk, teh hijau, dan bawang. Berfungsi meningkatkan aktifitas vitamin C sebagai antioksidan mencegah oksidasi LDL kolesterol yang dapat mengakibatkan kerusakan dinidng pembuluh narteri ( proses awal terjadinya atherosklerosis) dan menghambat penggumpalan keeping-keping darah sehingga baik untuk orang yang sudah mulai penempelan kolesterol pada dinding pembuluh darah atau orang pasca serangan/stroke.

Akhirnya memang makanan yang paling cocok untuk orang dewasa dan tua adalah makanan yang banyak sayuran dan buahan serta tempe-tahu ( makanan vegetarians).

liquid


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Sediaan farmasi solution (larutan) meliputi larutan Oral dan Topikal . Larutan Oral misalnya Potiones,Elixir, Mixture,Sirup,Netralisasi,Saturatio,Potio effervescent,Drop.Larutan topical misalnya Collyrium,Tetes mata,Tetes mulut,Tetes hidung,Gargarisma. Dalam makalah ini khususnya sediaan solution yaitu dalam bentuk potio dengan metode saturasi. Potio adalah sediaan cair berupa cairan yang dimaksudkan untuk diminum,diramu dan diracik sedemikian rupa sehingga dimungkinkan untuk diberikan dalam volume dosis tunggal dalam jumlah tertentu. Solutio yang dimaksutkan untuk pemakaian dalam ( per oral). Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi.                                                      Saturasi adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan Asam dengan Basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan  gas. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Potio vit C meliputi : Vit C, Natrii bicarbonas, Acidum citrikum, sukrosa, niacinamid, madu
I.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang di maksud Solutio?
2. Apa yang dimaksud Potio dan pembuatan saturatio?
3. Bahan tambahan yang digunakan?
4.  Pengujian yang dilakukan?
I.3 Tujuan
Mahasiswa mampu membuat Potio Vit C dengan metode Saturatio


BABII
TINJAUAN PUSTAKA
SOLUTIO (Larutan)
II.1 Pengertian
Larutan  adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Misal terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.Karena molekul molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur.
Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut :
1.      Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut.
2.      Larutan, yaitu larutan   mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut.
3.      Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut.
4.      Larut lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperature tertentu.
Zat pelarut disebut juga solvent, sedangkan zat yang terlarut disebut solute. Solvent yang biasa dipakai adalah :
Dalam farmasi dikenal istilah zat pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute) Solvent yang sering digunakan dalam pembuatan larutan adalah :
1.      Air untuk macam-macam garam
2.      Spiritus, misalnya untuk kamfer, iodium, menthol
3.      Gliserin, misalnya untuk tannin, zat samak, borax, fenol
4.      Eter, misalnya untuk kamfer, fosfor, sublimat
5.      Minyak, mislnya untuk kamfer dan menthol
6.      Paraffin Liquidum, untuk cera, cetaceum, minyak-minyak, kamfer, menthol, chlorobutanol
7.      Eter minyak tanah untuk minyak-minyak lemak

II.1.1 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kelarutan
a. Sifat dari solute atau solvent
Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya garam-garam anorganik larut dlam air. Solute yang non polar larut dam solvent yang non polar pula. Misalnya alkaloid bas (umumnya senyawa organic)
b. Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya Luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solution petit
c. Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut.
Zat yang larut dalam air
1. Semua garam klorida larut, kecualii AgCl, PbCl2, Hg2Cl2
2. Semua garam nitrat larut, kecuali nitrat base (bismuthi subnitrat)
3. Semua garam sulfat larut, kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4 (sedikit larut)
Zat yang tidak larut dalam air
1. Semua garam karbonat tidak larut, kecuali K2CO3, Na2CO3, (NH4)2CO3
2. Semua oksida dan hiroksida tidak larut, kecuali KOH, NaOH. NH4OH, BaO dan Ba(OH)2
3. Semua garam phosphat tidak larut, kecuali K3PO4, Na3PO3, (NH4)3PO4
d. Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat tersebut bersifat endoterm, karena proses kelarutannya membutuhkan panas.
Zat terlarut + pelarut + panas = larutan.
Zat lain justru dengan kenaikan suhu atau temperatur menyebabkan tidak larut, zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm, karena proses kelarutannya menghasilkan panas.
Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :
1.   Ukuran partikel : makin halus solute, makin kecil ukuran partikel; makin luas permukaan solute yang kontak denagn solvent, solute makin cepat larut.
2.   Suhu : umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute.
3.   Pengadukan
II.1.2 Definisi Potio dan Saturatio
a ) Potio
        adalah sediaan cair berupa cairan yang dimaksudkan untuk diminum,diramu dan diracik sedemikian rupa sehingga dimungkinkan untuk diberikan dalam volume dosis tunggal dalam jumlah tertentu. Solutio yang dimaksutkan untuk pemakaian dalam ( per oral). Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspense
b) Saturatio
adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan Asam dengan Basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan  ga


Pembuatan :
1.      Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. Misalnya NaHCO3 di gerus tuang kemudian masuk botol
2.      Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia
3.      2/3 bagian asam masuk basa, gas dibuang seluruhnya.
4.      Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol, segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan
I.1.3 Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan

a). Natrium bicarbonas
Kelarutan Natri Bicarbonas adalah I dalam 10,5 air, larutannya dalam air mudah teruai keluar gas Co2 pada pemanasan atau penggojokan.
Cara melarutkannya ialah:
v  Dalam mortir Bicarbonas ditambah sebagian air digerus, cairan yang jernih dituang dan sisa Kristal Natrii Bicarbonas ditambah air lagi, digerus dan cairan jernih dituang. Hal ini di ulang, sampai Kristal Natrii Bikarbonas larut semua
v  Natrii bicarbonas digerus halus, dilarutkan dalam botol tertutup dengan air suling sambil di goyang-goyangkan sampai larut. Bila melarutkan natrii bicarbonas, sebab apabila tidak, kelarutan natrii bicarbonas akan berkurang. Larutan campuran tersebut pada peyimpanan akan berwarna gelap. Hal ini disebabkan natrii bikarbonas mengandung ion Mn 3+ dan Fe 3+ yang akan member warna violet dengan
v  Natrii salisilas dalam larutan untuk mencegah terjadinya warna gelap, pada larutan diberi Phiropospas 0,25% dari larutan.







BAB III
PEMBAHASAN
A.1 Tinjauan Bahan Aktif
- Nama bahan obat             : Asam Askorbat / Vitamin C
- Nama kimia                      : L- Asam askorbat
- Rumus molekul                : C6H8O6
- Rumus bangun                 :



-  BM                                   : 176,13
-  Pemerian                          : Hablur/ serbuk putih/ agak kuning oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil diudara, dalam larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 190˚
-  Kelarutan                                     : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan benzena
-  Khasiat                             : Antioksidan

2. Tinjauan Bahan Tambahan
1. Bahan Asam
- Acidum Citricum
- Acidum Tartaricum

Bahan yang terpilih            : Acidum citricum
Alasan                                 : Lebih setabil jika direaksikan dengan natrium bicarbonat dibandingkan dengan asam-asam lain
2. Bahan Basa
- Natrii Bicarbonas
- Kalii Carbonas
- Natrii Carbonas
Bahan yang terpilih            : Natrii bicarbonas
Alasan                                : Karena natrii bicarbonas adalah Alkalizing agent ( pembasa ) dapat memberikan sensasi sejuk pada saat diminum akibat pelepasan gas CO2
3. Bahan Antioksidan
- Vitamin C
- Vitamin D
- Madu
- Beta Caroten
Bahan yang terpilih            : Vitamin E
Alasan                                : Karena vitamin E mempunyai mekanisme kerja jangka panjang karena terserap oleh lemak sehingga pelepasan sedikit demi sedikit dan membuat sediaan lebih tahan lama.




4. Bahan Tambahan Lain
- Vitamin B6
- Vitamin B12
- Madu
- Niacin

B. Formulasi Pembanding
∞ Vitamin C 1000 Sidomuncul                                  ∞ Komposisi CDR
R/ Vitamin C               1000 mg          R/ Vitamin C                           1000 mg
Vitamin E               25 mg                   Kalsium karbonat               625 mg
Vitamin B6             5 mg                     Vitamin D                          300 l.µ
Vitamin B12           5 mg                     Vitamin B6                                    15 mg
Honey                     120 mg
∞ Hemaviton C1000 mg                                             ∞ Enervon –C tiap tablet mengandung
Per 4 g sachet                                 R/ Vitamin C                           500 mg
R/ Vitamin C               1000 mg                Niasinamida                      50 mg
Zn                           10 mg                    Kalsium pantotenan          20 mg
Vitamin E               25 mg                    Vitamin B1                       50 mg
Vitamin B3             10 mg                    Vitamin B2                       25 mg
Vitamin B6             5 mg                     Vitamin B6                       10 mg
Vitamin B12           5 mcg                          Vitamin B12               5 mcg
Per 150 ml
R/ Vitamin C                           1000 mg
 Vitamin E                          25 mg                                     
Vitamin B3                         10 mg                                     
Vitamin B6                         5 mg                                            
Vitamin B12                       5 mcg 

ᴓ Formulasi
R/ Vitamin C                           1000 mg
Natrii bicarbonas                qs
Acidum citricum                3 gr
Sukrosa                               83,2 gr
d- α tokoferol                     0,025 gr
Niacinamide                       0,03 gr
Madu                                  qs
Aquadest ad                       140

ᴓ Cara Kerja
1.      Menyetarakan timbangan
2.      Timbang natrii bicarbonas kemudian lakukan gerus tuang dan masukkan botol
3.      Timbang acid citricum masukkan BG + air 1/3bag lalu aduk ad larut
4.      Timbang sukrosa masukkan BG + air qs aduk ad larut masukkan dalam bagian basa
5.      Timbang madu masukkan BG +air qs aduk ad larut masukkan dalam bagian basa
6.       Timbang vit C masukkan BG +air qs aduk ad larut masukkan dalam bagian basa
7.      Timbang niacinamida  (B3) masukkan BG + air qs aduk ad larut masukkan kedalam bagian basa aduk ad homogen
8.      Timbang vit E masukkan BG + air qs aduk ad larut masukkan kedalam bagian basa aduk ad homogen
9.      Masukkan 2/3bag asam ke dalam botol yang berisi basa melalui dinding botol secara perlahan tunggu sampai gas CO2 hilang
10.  Masukkan sisa 1/3bag asam ke dalam botol tutup dengan sampage knop














BAB IV
EVALUASI SEDIAAN

  1. Organoleptis
-    Bentuk               :  Cairan
-    Warna                 :  orange
-    Bau                     :  aroma jeruk
-    Rasa                   :  manis kemudiaan asam

  1. Berat Jenis
Alat     : piknometer
Prosedur
-          Bersihkan piknometer, bilas dengan aquadest, keringkan kemudian timbang
-          Piknometer diisi dengan aquadest, dinginkan sampai temperature menunjukkkan 200C dengan meletkkan piknometer pada cawan Petri yang berisi es
-          Timbang piknometer dengan mengelap bagian luarnya terlebih dahulu
-          Piknometer yang sama kemudian dibersihkan, dikeringkan dan diisi dengan syrup, dinginkan sampai temperature 200c
-          Timbang piknometer dengan mengelap bagian luarnya terlebih dahulu

Bj = berat sirup x bj aquadest
                  Berat aquadest

  1. pH
Alat     :  pH universal
Cara kerja :
1.      Ambil sejumlah sampel, masukkan beakerglas
2.      Masukkan kertas indikator kedalam sampel
3.      Cocokkan warna pada kertas pH
            Dari percobaan diatas didapat pH syrup adalah 5

  1. viskositas
Prosedur:
-          Disiapkan dua gelas silinder
-          Sirup diisikan kedalam gelas silinder lalu dimasukkan kedalam thermostat (beaker glass 1000ml) yang diisi air dan diberi thermometer)
-          Disiapkan benda padat bebentuk bola yang terbuat dari gelas
-          Bola dijatuhkan dengan pinset kedalam gelas silinder yang berisi sirup dalam keadaan hamper bertikal.
-          Diamati waktu jatuhnya bola antara dua tanda dengan stopwatch dan dicatat waktunya



η =
Keterangan:
               η    : viskositas
               s     : jarak bola jatuh
               dm : Bj cairan
               d    : Bj benda
               r     : jari- jari bola
               t     : waktu bola jatuh
               R   : jari- jari tabung viskometer
               g    : gravitasi
Menentukan Bj bola:
-          Menghitung jari- jari bola dengan mengukur keliling menggunakan jangka sorong
-          Ditimbang berat bola (massa)
-          Menghitung Bj











BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan makalah kami diatas dapat disimpulkan bahwa Potio adalah sediaan cair berupa cairan yang dimaksudkan untuk diminum,diramu dan diracik sedemikian rupa sehingga dimungkinkan untuk diberikan dalam volume dosis tunggal dalam jumlah tertentu.
Saturasi adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan Asam dengan Basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan  gas.
            Bahan tambahan yang dipilih untuk sediaan potio yaitu :
-           Natrii bicarbonas sebagai bahan basa Karena natrii bicarbonas adalah Alkalizing agent ( pembasa ) dapat memberikan sensasi sejuk pada saat diminum akibat pelepasan gas CO2
-          Acidum citricum sebagai bahan asam karena lebih setabil jika direaksikan dengan natrium bicarbonat dibandingkan dengan asam-asam lain
-          Vitamin E sebagai antioksidan karena vitamin E mempunyai mekanisme kerja jangka panjang karena terserap oleh lemak sehingga pelepasan sedikit demi sedikit dan membuat sediaan lebih tahan lama.
Setelah pembuatan potio selesai dilakukan baberapa pengujian antara lain:
-          Pemeriksaan organoleptis
-          Pemeriksaan homogenitas
-          Pemeriksan Ph
-          Pemeriksaan viskositas dan berat jenis








Daftar Pustaka

1.      Ansel, Howard C. (1989). Pengantar bentuk sediaan farmasi Edisi IV. Jakarta
2.      Anief, Moh., (2005)., ”Ilmu Meracik Obat”, cetakan XII, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
3.      Departemen Kesehatan RI (1978). Formularium Nasional. Edisi II. Jakarta
4.      Jendral, Direktorat POM (1979) Farmakope Indonesia. Edisi III Jakarta: Universitas Indonesia
5.      Jendral, Direktorat POM (1979) Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Universitas Indonesia
6.      Lachman, Leon. (1994). Teori Dan Praktek Farmasi Industri.Edisi III. Jakarta. Universitas Indomesia.
7.      Martin, Alfred (1993) Farmasi Fisik. Edisi III. Universitas Indonesia
7.   http://cahnartikel.blogspot.com/2010/03/bentuk-sediaan-farmasi.html

Jumat, 08 April 2011

makalah tanin

                                                                           BAB I
PENDAHULUAN
                                                     LATAR BELAKANG MASALAH
 Dalam metabolisme sekunder yang terjadi pada tumbuhan akan menghasilkan beberapa senyawa yang tidak digunakan sebagai cadangan energi melainkan untuk menunjang kelangsungan hidupnya seperti untuk pertahanan dari predaptor. Beberapasenyawa seperti alkaloid, triterpen dan golongan phenol merupakan senyawa-senyawayang dihasilkan dari metabolisme skunder. Golongan fenol dicirikan oleh adanyacincin aromatik dengan satu atau dua gugus hidroksil. Kelompok fenol terdiri dari ribuan senyawa, meliputi flavonoid, fenilpropanoid, asam fenolat, antosianin, pigmen kuinon, melanin, lignin, dan tanin, yang tersebar luas di berbagai jenis tumbuhan.
Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol. Senyawa tanin ini banyak di jumpai pada tumbuhan. Tanin dahulu digunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena sifatnya yang dapat mengikat protein. Selain itu juga tanin dapat mengikat alkaloid dan glatin.
Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks denganprotein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu tanin terkondensasi (condensed tannins) dan tanin-terhidrolisiskan (hydrolysabletannins)
Tanin memiliki peranan biologis yang kompleks. Hal ini dikarenakan sifat tanin yang sangat kompleks mulai dai pengendap protein hingga pengkhelat logam. Maka dari itu efek yang disebabkan tanin tidak dapat diprediksi. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis. Maka dari itu semua penelitian tentang berbagai jenis senyawa tanin mulai dilirik para peneliti sekarang. Dalam makalah ini akan dibahas berbagai hal tentang tanin yaitu klasifikasinya dan contoh senyawanya, sifat umumnya, cara identifikasi serta contoh pemurnian senyawa tanin.





BAB II
PEMBAHASAN
II.1 PENGERTIAN TANIN
Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks dengan protein.
¡  Senyawa-senyawa kompleks yang tersebar luas dalam dunia tumbuh-tumbuhan terdapat dalam jumlah besar pada daun, buah dan batang
¡  Campuran senyawa polifenol, semakin banyak jumlah gugus fenolik maka semakin besar ukuran molekul tanin
¡  Tanin berikatan kuat dengan protein & dapat mengendapkan protein dari larutan.
Tannin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya, tannin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Dalam industry, tannin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein.

II.2 PENGGOLONGAN TANIN
Secara kimia terdapat dua jenis tannin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan. Tannin-terkondensasi hampir terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan gimnospermae, serta tersebar luas dalam angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Sebaliknya, tannin yang terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua, di Inggris hanya terdapat pada suku yang nisbi sedikit. Tetapi kedua jenis tannin itu dijumpai bersamaan dalam tumbuhan yang sama seperti yang terjadi pada kulit dan daun ek, Quercus.
—  tanin terkondensasi (condensed tannins)
   Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flafonoid yang merupakan senyawa fenol dan telah dibahas pada bab yang lain.Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang dihubungan dengan melalui C 8 dengan C4. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.
    
 Jika terkondensasi maka akan menghasilkan flavanoid jenis flavan  dengan bantuan nuklofil berupa floroglusinol

    • terdiri dari molekul-molekul katekin dan epikatekin yang dihubungkan dengan ikatan C-C
▪      katekin, epikatekin ® monomer
▪      2 – 4 monomer ® prosianidin oligomerik (OPC)
    • Bobot molekul 1000-3000
    • Lebih tahan terhadap penguraian
    • Lebih mudah teroksidasi ® warna merah muda keunguan
    • Penyimpanan ® flobafen ¯ (=flobatanin)
                           
—  tanin terhidrolisiskan(hydrolysable tannins)
           
Hydrolysable Tannin =  Pirogalol tanin

—  Terdiri dari molekul gula pusat yang terikat pada molekul-molekul asam galat (galitanin) atau asam heksahidroksidifenat (elagitanin)
—  Merupakan glikosida sehingga mudah terhidrolisis ® asam fenolat (asam/enzim) + gula
—  Berat molekul galitanin1000-1500,sedangkan Berat molekul Ellaggitanin 1000-3000
—  Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ininadalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari krbohidrat denganasam galat. Senyawa

—  


SISTEM PENOMORAN PADA FLAVANOID
Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Golongan terbesar flavonoid berciri mempunyai piran yang menghubungkan rantai tiga-karbon dengan salah satu dari cincin benzene. Sistem penomoran untuk turunan flavonoid diberikan dibawah:

Di antara flavonoid khas yang mempunyai kerangka seperti diatas berbagai jenis dibedakan tahanan oksidasi dan keragaman pada rantai C3.
II.3 SIFAT-SIFAT TANIN
            SIFAT KHUSUS
—  Tidak dapat dikristalisasi
—   Bila ditambah air ® larutan koloidal, reaksi asam, rasa astringen
—  Mengendapkan larutan gelatin, protein dan  alkaloid dalam larutan
—  + garam Fe (III) ® senyawa biru tua / hitam kehijauan (larut)
—  + K-ferisianida + NH4OH ® warna merah tua
—  Mengendap dengan garam-garam Cu, Pb, Sn, lar. K-bikromat kuat / asam kromat 1 %
—  dalam larutan basa ® mudah mengabsorbsi oksigen
            SIFAT UMUM
—  1. Dalam air membentuk larutan koloidal yang bereaksi asam dan sepat .
—  2. Mengendapkan larutan gelatin dan larutan alkaloid.
—  3. Tidak dapat mengkristal.
—  4. Larutan alkali mampu mengoksidasi oksigen.
—  5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik

II.4 FUNGSI TANIN
Di dalam tumbuhan letak tannin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya, sebagian besar tumbuhan yang banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Kita menganggap salah satu fungsi utama tannin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan. Fungsi tanin pada tanaman biasanya sebagai senjata pertahanan untuk menghindari terjadinya over grazing oleh hewan ruminansia dan menghindari diri dari serangga. Penyamak kulit. Pembuatan tinta (+ garam besi(III) ® senyawa  berwarna tua). Reagen untuk deteksi gelatin, protein, alkaloid (karena sifat mengendap). Antidotum keracunan alkaloid (membentuk tannat yang mengendap) . Inflamasi saluran pencernaan bagian atas. Diare karena inflamasi saluran GI. Topikal : lesi terbuka, luka, hemoroid.

II.5 CARA IDENTIFIKASI TANIN
KUALITATIF
¡  Galotanin, Elagitanin  + garam Feri ® warna + ¯ hitam kebiruan
¡  Tanin terkondensasi   + garam Feri  ® ¯ coklat kehijauan
¡  Galotanin + K-iodat ® warna rosa
¡  Asam galat bebas + K-iodat ® warna jingga
¡  Elagitanin + asam nitrit ®  mula2 rosa, kemudian ungu, lalu biru
¡  Tanin terkondensasi + vanilin + HCl ® merah


KUANTITATIF
PENGUJIAN TANNIN
METODE VOLUMETRIK
Pereaksi :
1. Kalium Permanganat 0,1 N
2. Larutan indigokarmin : Larutkan 0,375 g dalam 250 ml air yang mengandung 12,5 ml H2SO4 pekat.
3. Larutan gelatin : Larutkan 6,25 g dalam NaCl jenuh selama 1hari, panaskan sampai gelatin larut, dinginkan dan encerkan dengan NaCl jenuh sampai 250 ml.
4. Larutan natrium klorida : Pada 975 ml larutan NaCl jenuh campur dengan 25 ml H2SO4 pekat.

Cara kerja
Pada sample setara dengan 0,01 g tannin, tambah 20 ml larutan indigokarmin dan sekitar 500 – 750 ml air. Tambah KMnO4 0,1 N dengan menggunakan buret, saat 1 ml dengan pengocokkan, warna berubah menjadi hijau terang. Kemudian tambah setetes demi setetes sampai warna berubah menjadi kuning terang atau pink gelap (Volume KMnO4 sebagai A). Pada 50 ml larutan tersebut, tambah 25 ml larutan gelatin dan larutan natrium klorida sampai volume 250 ml. Saring larutan tersebut (kaolin, Kieselguhr atau Supercel), kocok selama 15 menit dan saring. Pada 50 ml hasil saringan, tambah 20 ml larutan indigokarmin dan 500 – 750 ml air. Titrasi dengan KMnO4 0,1 N (Sebagai B).

Perhitungan
A : Total semua senyawa termasuk tannin
B : Non senyawa tannin
A – B : Tannin
1 ml KMnO4 0,1 N ~ 0,0042 Tannin

II.6 BIOSINTESA TANIN
Biosintesis tannin
1.      Tannin-terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (atau galotanin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan karbon-karbon menghubungkan satu satuan flavon dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-8 atau 6-8. Kebanyakan flavolan memiliki 2 sampai 20 satuan flavon. Nama lain untuktanin-terkondensasi adalah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbon-karbon penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin. Kebanyakan proantosianidin adalah prosianidin, ini berarti bila direaksikan dengan asam akan menghasilkan sianidin.
2.      Tannin-terhidrolisiskan terutama terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana adalah depsida galoilglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh lima gugus ester galoil atau lebih. Pada jenis kedua, inti molekul berupa senyawa dimer asam galat, yaitu asam heksahidroksidifenat, di sini pun berikatan dengan glukosa. Bila dihidrolisis elagitanin ini menghasilkan asam elagat. Tannin terhidolisiskan ini pada pemanasan dengan asam klorida atau asam sulfat menghasilkan gallic atau ellagic. Hydrolyzable tanin yang terhidrolisis oleh asam lemah atau basa lemah untuk menghasilkan karbohidrat dan asam fenolat. Contoh gallotannins adalah ester asam gallic glukosa dalam asam tannic (C76H52O46), ditemukan dalam daun dan kulit berbagai jenis tumbuhan.


II.7 EFEK TANIN DALAM SALURAN PENCERNAAN
1. Efek terhadap diare
¡  terbentuk lapisan protektif dari protein yang mengendap pada mukosa sepanjang dinding saluran perncernaan ® menghilangkan rasa ujung-ujung syaraf sensoris & mengurangi rangsang terhadap aktivitas peristaltik yang meningkat
2. Efek terhadap ulkus peptikum
¡  tanin terikat secara selektif pada protein-protein yang terekspos pada dasar ulser ® barier yang terbentuk melindungi bawah ulser dari isi lambung
Pada permukaan berdarah (Lokal)
Efek hemostatik karena :
¡  Vasokonstriksi lokal
¡  Peningkatan kecepatan koagulasi
¡  Pembentukan “gumpalan artifisial”
Efek antioksidan
             – berkaitan dengan OPC
                        contoh tanaman yang banyak mengandung  OPC : -  biji anggur, kulit batang Pinus pinaster .

Reaksi yang Tidak Diinginkan:
¡  Hanya berlaku untuk yang jumlahnya signifikan  dan digunakan dalam dosis relatif tinggi.
¡  Pemakaian kronis dalam dosis tinggi :
§  Astringensi berlebihan pada jaringan mukosa
§  Konstipasi
§  Menghambat enzim- enzim pencernaan terutama dari usus kecil
¡  Membentuk kompleks dengan ion logam misalnya dengan Fe ® jadi menghambat absorpsi
¡  Suntikan s.c ® karsinogenik
¡  Hydrolysable tannin bila diabsorpsi ke dalam aliran darah ® hepatotoksik

II.8 BAHAN-BAHAN YANG MENGANDUNG TANIN
1. Daun teh berasal dari Thea sinensis (Theaceae)
§  Teh hijau :  epigalokatekin (EGC), epigalokatekin galat (EGCG)
§  Teh hitam (fermentasi + pemanasan) :
¡  Eksperimen dengan manusia (dosis oral) :
            Teh hijau dan teh hitam ®     meningkatkan aktivitas antioksidan plasma
¡  Teh hijau lebih kuat sekitar 50% dari teh hitam (In vitro lebih kurang 5X lebih kuat)
¡  Efek cepat : teh hijau ± 30 menit ; teh hitam sesudah 50 menit
Susu menghilangkan efek ini.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEis73TV5NE8-74wyOWzbUHmF0O8IyAyfTzwv5MwMhShCt9f6WAshwX2YwpbWWCVB4IKGhV2scm6K_n06JHCTE0bduyx95LujI9jrtE1F9SB_U5xIuRZY_VVEK1qmpvFvZOqDGruSSBMEj8/s400/Green_tea_leaves.jpg



2.      Daun Hamamelis

¡  Daun yang dikeringkan dari Hamamelis virginiana L. (Hamamelidaceae).  Digunakan dalam bentuk dekok/infus.
¡  Konstituen :
§  Hamamelitanin dan tanin lain (asam galat)
§  Gula heksosa
§  Minyak atsiri
§  Zat pahit
¡  Penggunaan :
§  Sifat astringen dan hemostatik

§  Air hamalelis (m. atsiri) : obat wasir, obat gigi, pengobatan gigitan/sengatan serangga.

BAB III
KESIMPULAN

Tanin merupakan salah satu senyawa polifenol dengan berat molekul lebih dari 1000 yang dapat diperoleh dari semua jenis tumbuhan. Tanin memiliki sifat yang khas baik fisik maupun kimianya. Tanin biasanya dalam tumbuhan berfungsi sebagai system pertahanan dari predaptor, contohnya pada buah yang belum matang, buah akan terasa asam dan sepat, hal ini sama dengan sifat tanin yang asam dan sepat. Selain itu tanin jugadapat mengendapkan protein, alkaloid, dan glatin. Tanin juga dapat membentuk khelat dengan logam secara stabil, sehingga jika manusia kebanyakan mengkonsumsi makan yang memiliki tanin maka Fe pada darah akan berkurang sehingga menyebabkan anemia
Tanin diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu tanin terhidrolisis dan tannin terkondensasi. Masing-masing jenis memiliki struktur dan sifat yang berbeda. Untuk tannin yang tehidrolisis memiliki ikatan glikosida yang dapat dihidrolisis oleh asam. Kalau taninterkondensasi biasanya bebrbentuk polimer,jenis ini didominasi dengan flavonoidsebagai monomernya.Beberapa cara mengujinya bergantung pada tujuanya apakah kualitatif  atau kuantitatif, masing-masing dapat dilakukan dilab dengan reagen dan metode tertentu.Tanin jenis terhidrolisis lebih mudah untuk di murnikan daripada jenis terkondensasi.














DAFTAR PUSTAKA

Harborne, J.B.1996.Metode Fitokimia.Edisi ke-2.ITB Bandung.Bandung.